Palembang, GemaBerita – Dalam dunia yang semakin bising, banyak dari kita diam-diam merindukan tempat yang sunyi. Tempat di mana detak waktu melambat, di mana suara hanya berasal dari angin, debur ombak, dan tawa orang-orang terdekat. Di Lampung Selatan, tepatnya di Desa Canggung, Kecamatan Rajabasa, Kalianda, ada sebuah pantai yang menawarkan pengalaman itu. Namanya Pantai Setigi Heni—sebuah nama yang pelan-pelan mulai terdengar di antara para pencinta ketenangan dan keindahan alam.

Perjalanan Menuju Pantai yang “Disembunyikan” Alam
Pantai Setigi Heni mungkin belum sepopuler Pantai Tapak Kera atau Pantai Marina di kawasan Kalianda. Namun justru di situlah letak daya tariknya. Ia belum ramai, belum ramai difoto, belum ramai dibicarakan. Masih banyak yang menyebutnya sebagai “pantai rahasia”, karena letaknya yang tersembunyi di balik kebun kelapa dan jalanan desa yang tenang.

Dari exit Tol Kalianda, perjalanan ke Setigi Heni hanya sekitar 20 menit saja. Namun bagi warga Palembang yang ingin berpetualang di akhir pekan panjang ini, butuh waktu sekitar 4–5 jam menyusuri Tol Trans Sumatera hingga ke ujung selatan Pulau Sumatera. Tapi percayalah—perjalanan panjang itu akan terbayar lunas saat pertama kali kaki menginjak pasirnya.

Pantai yang Merangkul, Bukan Menghardik
Setigi Heni bukan pantai yang memamerkan gemerlap atraksi atau musik keras. Ia bukan tempat pesta. Ia lebih seperti rumah nenek di kampung—hangat, damai, dan memeluk jiwa yang lelah.

Begitu sampai, hamparan pasir putih menyambut lembut. Ombaknya tenang, airnya jernih, dan deretan pepohonan rindang menciptakan semacam kanopi alami yang cocok untuk bersantai sambil menggelar tikar. Anak-anak bisa bermain air tanpa khawatir. Orang dewasa bisa duduk diam, mendengarkan suara laut yang bagai lagu nina bobo.

Yang membuat pantai ini istimewa adalah panorama Gunung Krakatau dari kejauhan. Ketika langit mulai berubah warna di sore hari, siluet Krakatau muncul di balik kabut, menambah kesan magis pada suasana yang sudah menenangkan.
Setigi Heni untuk Warga Palembang yang Rindu Laut
Libur panjang akhir pekan ini menjadi momen sempurna bagi warga Palembang yang ingin menghindari keramaian kota dan menyegarkan kembali energi. Jarak yang cukup dekat dan bisa ditempuh lewat tol membuat Setigi Heni menjadi destinasi “dadakan” yang realistis tapi tetap berkesan.

Bayangkan, pagi berangkat dari Palembang, sore sudah duduk di tepi pantai sambil menyeruput kelapa muda, ditemani hembusan angin laut dan langit oranye yang perlahan gelap.
Dengan harga tiket masuk Rp100.000 per orang, pengunjung sudah mendapatkan makan siang khas pesisir, fasilitas seperti musala, toilet bersih, gazebo, serta spot-spot duduk santai yang tersebar di sepanjang garis pantai. Tidak ada suara hiruk pikuk, hanya ketenangan yang sulit ditemukan di tempat wisata mainstream.

Selain itu, pengelola pantai juga menjaga jumlah kunjungan agar suasana tetap eksklusif dan nyaman. Bahkan dalam kondisi ramai pun, pantai ini tidak terasa sesak. Setiap pengunjung seolah memiliki ruang pribadinya masing-masing.
Melayani dengan Hati, Bukan Sekadar Bisnis
Setigi Heni dikelola oleh warga lokal yang ramah dan penuh semangat menyambut tamu. Mereka bukan sekadar menjual destinasi, tapi menawarkan pengalaman. Pantai ini menjadi tempat di mana orang bisa benar-benar rehat dari dunia luar.

Sikap hangat ini terasa di setiap sudut pantai. Bahkan sebelum masuk, pengunjung sudah disambut dengan sapaan ramah dan arahan dari tim kecil yang menjaga area parkir dan kebersihan lingkungan.
Ingin Tahu Lebih Lanjut? Temukan Mereka di Instagram
Pantai Setigi Heni kini mulai dikenal lewat media sosial. Kamu bisa mengintip keindahan alamnya, informasi terbaru, serta cara reservasi melalui akun resmi Instagram mereka:
📲 @setigihenilampung
Penutup: Menyatu dengan Alam, Menemukan Diri
Pantai Setigi Heni bukan tentang fasilitas mewah atau wahana penuh warna. Ia tentang keheningan, keindahan alam yang jujur, dan ruang untuk menata ulang napas. Dan jika kamu sedang lelah, atau sekadar ingin jeda sejenak dari ritme kehidupan yang padat—pantai ini memanggil.

Akhir pekan panjang ini, apakah kamu siap menepi?

Komentar