Banyuasin, GemaBerita – Seni tari tradisional di Kabupaten Banyuasin memiliki potensi besar untuk menarik wisatawan, namun pengamat seni dan budaya menilai pengembangannya masih belum maksimal akibat minimnya perhatian dari pemerintah daerah (Pemda).
Pengamat seni dan budaya Banyuasin, Raden Gunawan, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kurangnya dukungan bagi pelestarian dan pengembangan warisan seni tari lokal.
“Alhamdulillah, seni tari di Banyuasin lumayan berkembang. Tapi sayangnya tidak terlalu diperhatikan oleh pemda,” ujar Raden saat peringatan Hari Tari Internasional pada Sabtu (3/5/2025).
Ia menjelaskan, tarian khas Banyuasin seperti Tari Persembahan Sedulang Setudung, Tari Betangas, serta kreasi tari Pegi Mantang masih sering memeriahkan acara pernikahan dan pembukaan kegiatan resmi.
Namun, ia menyoroti minimnya dukungan fasilitas ruang kreatif, seperti panggung seni, yang dapat membantu regenerasi penari muda. Ia mencontohkan program pentas akhir pekan di taman kota, yang sebelumnya sempat menjadi daya tarik wisata sebelum pandemi COVID-19.
“Kegiatan itu sangat bagus untuk menarik wisatawan, tapi sekarang terhenti dan belum dilanjutkan lagi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Raden baru saja menerima penghargaan sebagai pelatih tari tingkat provinsi, namun mengungkapkan pelatihan dan pertunjukan seni tari selama ini dilakukan secara swadaya dengan keterbatasan dana.
Ia berharap pemda lebih peduli terhadap seni dan budaya sebagai aset penting yang dapat menjadi daya tarik wisata.
“Kalau pemerintah serius mendukung, seni tari bisa jadi pemikat wisatawan dan membanggakan Banyuasin,” tuturnya.
Sebagai pesan kepada pemerintah, Raden menegaskan betapa pentingnya alokasi anggaran dan perhatian lebih besar bagi para pelaku seni.
“Anak-anak muda kita butuh wadah. Kasihan kalau seni kita terus-menerus diabaikan,” pungkasnya.

Komentar