Banyuasin, GemaBerita — Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan, mencatatkan capaian luar biasa di sektor pertanian. Produksi padi daerah ini menembus angka 1,1 juta ton gabah kering giling (GKG), menggeser Kabupaten Karawang yang selama ini dikenal sebagai ikon lumbung beras nasional.
“Ini bukan sekadar angka, tapi hasil nyata dari kerja kolektif petani, pemerintah, dan semua pihak yang terlibat,” ujar Bupati Banyuasin, Askolani, Jumat (19/9/2025), melalui laman resmi pemerintah daerah.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tak lepas dari strategi intensifikasi pertanian yang diterapkan sejak 2024, termasuk optimalisasi lahan rawa seluas 11.700 hektare yang meningkat menjadi 23.538 hektare pada 2025. Dukungan sarana produksi seperti benih unggul, dolomit, dan pestisida juga disebut berperan besar dalam mendorong produktivitas.
Untuk menjaga momentum, pemerintah daerah berencana mempercepat masa tanam pada September ini. “Setiap sore kami duduk bersama Tim Luas Tambah Tanam (LTT) dan Kementerian Pertanian, mengevaluasi laporan harian. Sinergi dengan pemerintah pusat dan provinsi terus kami jaga agar semua bantuan bisa tepat sasaran dan berdampak langsung,” jelas Askolani.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Banyuasin, Sarip, menambahkan bahwa petani di wilayahnya juga didorong untuk masuk dalam skema serapan Bulog. Hingga pekan pertama September, serapan gabah telah mencapai 109.339 ton GKG, sementara serapan beras menyentuh angka 19.680 ton.
“Kalau dihitung setara beras, totalnya mencapai 78.047 ton. Itu hampir separuh dari total penugasan Bulog untuk Sumsel yang sebesar 166.000 ton. Artinya, Banyuasin menyumbang hampir 50 persen,” ungkap Sarip.
Dengan capaian ini, Banyuasin tak hanya menunjukkan potensi sebagai produsen pangan, tetapi juga sebagai model intensifikasi pertanian berbasis lahan rawa yang bisa direplikasi di daerah lain. Di tengah tantangan ketahanan pangan nasional, Banyuasin tampil sebagai bukti bahwa inovasi lokal bisa menjawab kebutuhan strategis bangsa.

Komentar