Surabaya, GemaBerita – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Yahya Cholil Staquf menegaskan tidak akan mundur dari jabatannya meski sejumlah pengurus mendorong langkah itu. Pernyataan tersebut disampaikan usai pertemuan dengan para Ketua PWNU tingkat provinsi di Hotel Novotel Samator Surabaya, Minggu (23/11/2025) dini hari.
“Sama sekali tidak pernah terbesit dalam pikiran saya untuk mundur,” kata Yahya di hadapan puluhan peserta rapat koordinasi yang berlangsung sejak Sabtu malam.
PBNU belakangan diterpa isu perpecahan setelah risalah rapat harian Syuriyah pada 20 November 2025 memutuskan agar Yahya mengundurkan diri. Surat edaran itu bahkan memberi ultimatum, jika dalam tiga hari tidak mundur, ia akan diberhentikan dari jabatan Ketua Umum.
Dalam surat tersebut, Syuriyah menyebut dua alasan utama: kehadiran narasumber yang dikenal pro-zionis dalam Akademi Kepemimpinan Nasional NU, serta dugaan pelanggaran tata kelola keuangan yang dianggap menyalahi Pasal 97-99 Anggaran Rumah Tangga NU.
Yahya menolak dengan alasan mandat muktamar. Ia menegaskan, dirinya dipilih untuk memimpin PBNU sebagai ketua tanfidziyah selama lima tahun sejak Muktamar ke-34 di Lampung pada 2021. “Saya mendapat mandat lima tahun memimpin NU, dan itu akan saya jalani. Insya Allah saya sanggup,” ujarnya.
Terkait kehadiran akademisi Amerika Serikat Peter Berkowitz, Yahya sebelumnya telah meminta maaf kepada publik pada 28 Agustus 2025. Ia juga menepis berbagai rumor yang beredar, termasuk tudingan penggunaan dana organisasi hingga Rp 900 miliar. “Macam-macam rumor yang keluar, ada yang menyebut saya makan uang organisasi Rp 900 miliar, dan sebagainya,” katanya.
Yahya menegaskan tidak akan menanggapi isu yang menurutnya hanya sebatas rumor. Ia memilih fokus menjalankan mandat muktamar hingga masa jabatannya berakhir.

Komentar